didaktika

Banyak Pria Lansia Mengonsumsi Obat Prostat yang Tidak Lagi Mereka Butuhkan

Rabu, 15 Juli 2026 | 21:33 WIB
medscape.com

Banyak pria lanjut usia yang masih mengonsumsi obat prostat namun sebenarnya tidak lagi dibutuhkan oleh mereka. Peneliti utama dari Universitas California, San Francisco, Dr. Scott R. Bauer mengatakan bahwa resep jangka panjang obat prostat tamsulosin tidak boleh terus diberikan tahun demi tahun tanpa peninjauan.

Seiring bertambahnya usia, masalah buang air kecil menjadi jauh lebih umum. Banyak pria mendapati diri mereka terbangun beberapa kali setiap malam untuk menggunakan kamar mandi.

Yang lain kesulitan untuk mulai buang air kecil, merasa bahwa kandung kemih mereka tidak kosong sepenuhnya, atau memperhatikan aliran urin yang jauh lebih lemah.

Masalah-masalah ini secara perlahan dapat memengaruhi tidur, rutinitas harian, perjalanan, pekerjaan, dan kesejahteraan emosional.

Meskipun banyak orang berpikir perubahan ini hanyalah bagian normal dari penuaan, perubahan ini sering kali disebabkan oleh pembesaran prostat.

Pembesaran prostat, yang secara medis dikenal sebagai hiperplasia prostat jinak atau BPH, bukanlah kanker. Ini berkembang secara alami pada banyak pria seiring bertambahnya usia.

Karena prostat mengelilingi saluran yang membawa urin dari kandung kemih, prostat yang lebih besar dapat mempersempit saluran ini dan membuat buang air kecil menjadi sulit.

Salah satu obat yang paling sering diresepkan untuk BPH adalah tamsulosin. Obat ini mengendurkan otot-otot di sekitar prostat dan kandung kemih, sehingga memudahkan urin untuk keluar.

Bagi banyak pria, obat ini memberikan kelegaan yang nyata, yang menjelaskan mengapa obat ini menjadi salah satu pengobatan yang paling banyak digunakan untuk gejala saluran kemih.

Namun, para dokter telah lama bertanya-tanya apakah pasien masih mendapatkan manfaat setelah mengonsumsi obat ini selama bertahun-tahun.

Para ilmuwan dari Universitas California, San Francisco memutuskan untuk menjawab pertanyaan ini. Penelitian mereka, yang diterbitkan di JAMA Network Open, berfokus pada pria lanjut usia yang telah lama mengonsumsi tamsulosin.

Alih-alih berasumsi bahwa obat tersebut masih bekerja, para peneliti dengan cermat mengukur apakah obat tersebut benar-benar terus memperbaiki gejala.

Setiap peserta bergantian mengonsumsi tamsulosin dan plasebo yang tampak identik selama periode pengobatan singkat. Baik pasien maupun peneliti tidak mengetahui pengobatan mana yang digunakan pada saat itu.

Pendekatan ini memungkinkan tim untuk membandingkan gejala setiap orang dalam kedua kondisi tersebut.

Halaman:

Terkini